Mimpi Satu Dasawarsa Pasir Putih, Danny Resmikan Hikayat Pengarsipan dan Pendokumentasian Bale Data

  • Whatsapp

Pemenang, Utarapost.net–Mendayu data, dokumentasi hingga pengarsipan bukanlah pekerjaan mudah apalagi jika dikaitkan dengan aspek kebudayaan. Pemaknaan pengarsipan pada dasarnya lebih dekat dengan upaya penyediaan kompilasi informasi dan data-data guna memudahkan pengaksesan data yang terpadu, utuh dan menyeluruh.

Kini, mimpi satu dasawarsa Yayasan Pasir Putih tersebut diwujudkan dengan inovasi “Paltform Bale Data” diresmikan melalui kegiatan Hikayat Pengarsipan dan Dokumentasi Bale Data di Aula Masjid Baiturrahman Pemenang, Rabu (17/11). Kegiatan dihadiri langsung Wakil Bupati Lombok Utara Danny Karter Febrianto, ST, M.Eng bersama sejumlah tokoh adat dan budayawan.

Bacaan Lainnya

Direktur Yayasan Pasir Putih Muhamad Sibawahi, menjelaskan, bahwa kegiatan pengarsipan dan pendokumentasian bale data tersebut diinisiasi mulai sejak pembentukan Pasir Putih tahun 2010 silam. Konsentrasi kegiatannya fokus pada selingkungan kearifan budaya Dayan Gunung.

“Kami punya mimpi mengumpulkan seluruh dokumen setidaknya museum yang nantinya dapat diakses untuk generasi,” ungkapnya.

Kata Sibawahi, berangkat dari lanscap kepedulian tersebut saat ini pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan telah membantu komunitas setempat dengan mengabulkan sejumlah permohonan melalui proposal yang mereka ajukan.

Dijelaskan pula, sejatinya kegiatan Museum Audio Visual Kebudayaan Lombok Utara telah berjalan sejak bulan September 2021, mulai dari tahapan penelitian, pemetaan, dan pendataan subjek arsip, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan dan digitalisasi arsip. Akhiri proses dilakukan diskusi mendalam dengan berbagai pihak.

“Kita mulai ini kira-kira sudah tiga bulan, dengan berbagai tahapan, alhamdulillah semua mendukung dengan antusias, bahkan pihak-pihak yang memiliki subjek arsip begitu antusias dan senang ketika mereka tahu kami akan membantu mereka menjaga arsip budaya itu,” imbuhnya.

Ia lantas mengharapkan hadirnya supporting pemerintah dalam proses kegiatan pengumpulan data dalam formula pengarsipan dan dokumentasi budaya untuk generasi mendatang.

Selaras Sibawahi, Kurator Mahardika Yudha, menuturkan berangkat dari kerja-kerja Pasir Putih selama 10 tahun yang mengumpulkan, mendokumentasi hingga pengarsipan menjadi penting diwujudkan bersama.

“Saya lebih menyebutnya sebagai Sketsa dengan Paltform Bale Data,” akunya.

Kegiatan melalui hikayat pengarsipan kebudayaan tersebut membedakan cara bangsa Indonesia dengan negara luar. Hal itu berarti, tegasnya, tidak mesti mengadopsi cara kebarat-baratan untuk mengumpulkan, mendokumentasikan maupun mengarsipkan kebudayaan
tapi secara mandiri bisa dilakukan seperti cara yang diinisiasi Pasir Putih.

Menurut Yudha, Bale Data sebagai langkah serius dari sebuah kegiatan pengarsipan budaya. Kebudayaan dan pengetahuan lokal memiliki potensi besar ketika dielaborasi dengan baik, sehingga kegiatan pengarsipan tersebut merupakan media masyarakat Lombok Utara belajar kembali memahami hal-hal yang sudah dimiliki, misalnya tradisi dan ritual-ritual kebudayaan.

“Saya pikir ini adalah langkah yang lebih serius, bentuk pengarsipan terhadap kebudayaan kita. Sebenarnya kita tidak kalah. Kita begitu kaya pengetahuan dan kebudayaan lokal jika dielaborasi. Inilah cara kita belajar kembali memahami apa yang kita miliki,” terang Yudha.

Momentum pameran itu semacam rangkuman sejarah pengarsipan budaya Lombok Utara, berbagai macam pola ditemukan, seperti pola tutur bercerita, pola penulisan dalam bentuk lontar, hingga pada masa modern saat ini yang menggunakan media audio visual,” terangnya lagi.

Disamping itu, ungkap Yudha, pameran Hikayat Pengarsipan Bale Data tersebut semacam sebuah sketsa atau gambaran sejarah pengarsipan budaya di Lombok Utara dari masa ke masa, mulai dari tutur (cerita) atau tembang, pengarsipan berbentuk naskah lontar, hingga audio visual serta merambah pula kepada formula media sosial.

“Dalam perjalanan kami merintis komunitas ini banyak cerita, mulai dari rumah ke rumah. Tempat Sekretariat juga pernah difasilitasi, keluar lagi dan saat ini sekretariat ada di belakang gedung badminton,” pungkasnya.

Dalam pada itu, mewakili Bupati Lombok Utara, Dany Karter Febrianto mengapresiasi langkah yang diterapkan Yayasan Pasir putih, pasalnya 10 tahun bukanlah waktu yang pendek. Dimulai dari merintis kegiatan, berpindah sekretariat, lalu bertemu dengan para sepuh/narasumber untuk mengumpulkan informasi dan dokumentasi yang tentu menguras tenaga dan pikiran. Alhasil momentum perwujudan mimpi satu dasawarsa menunjukkan bukti kuat eksistensi Pasir Putih.

“Saya merasa terhormat berada di tengah-tengah tempat ini, di mana anak-anak muda sudah mulai berfikir besar untuk daerah, pengarsipan dan dokumentasi kebudayaan bukanlah pekerjaan yang mudah. Pemerintah berjanji menyediakan ruang di Kantor Perpustakaan dan Kearsipan,” ucapnya.

Keberagaman serta potensi kebudayaan di Gumi Tioq Tata Tunaq cukup banyak. Tidak akan selesai diceritakan satu dua hari, sehingga ke depan dari kegiatan pengarsipan dan pendokumentasian itu generasi berikutnya bahkan khalayak luar dapat mengakses data dengan mudah melalui gedget mereka.

Selain itu, Danny yang juga disematkan sebagai keturunan Pembekel Beleq (orang dalam strata adat Desa Loloan sebagai orang besar dalam kapasitas mengurus pemerintahan di masa lampau-red) itu, menegaskan, adat di Lombok Utara menjadi benteng terakhir atas fenomena degradasi kemajuan zaman di Gumi Lombok. Paling tidak, lanjutnya, menjadi identitas asli masyarakat Lombok Utara terhadap keberagaman yang ada.

“Kita tidak bisa pungkiri kemajuan teknologi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyimpan, mengarsipkan,dan mendokumentasikan termasuk menyangkut soal kebudayaan. Meski kata kolot masih disematkan pada kota di KLU, tapi ini jadi khazanah dan kekhasan bahwa kita adalah orang yang beradab dan berbudaya,” tegas Danny.

Menurutnya, pemerintah akan selalu hadir serta menempatkan diri pada kegiatan yang bersifat positif, terlebih soal pengumpulan data yang terpusat. Bisa memudahkan khalayak dapat untuk mengaksesnya.

Kegiatan diakhiri Wabup membuka resmi Hikayat Pengarsipan ditandai pengguntingan pita. (red)

Pos terkait