Cegah Stunting, Tujuh Daerah Dapat Pendampingan Tanoto Foundation

  • Whatsapp

Jakarta, Utarapost.net – Beberapa tahun terakhir grafik angka stunting di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup baik. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi stunting menempati posisi 30.8 persen. Sementara data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019 menujukkan penurunan sekitar 3.1 persen menjadi 27.67 persen.

Keseriusan pemerintah menangani isu stunting juga terlihat pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Tampak upaya percepatan penurunan stunting menjadi salah satu proyek prioritas RPJMN.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, target pemerintah menekan angka prevalensi stunting di bawah 20% tahun 2024 tetap menjadi tugas besar. Bahkan disinyalir lebih berat dengan munculnya kasus pandemi Covid-19. Padahal stunting membutuhkan penanganan serius dengan upaya terintegrasi dari berbagai pihak. Tujuannya seluruh upaya intervensi penanganan dan pencegahan stunting lebih maksimal.

Upaya mendukung program pemerintah untuk menurunkan angka stunting, Tanoto Foundation bekerja sama dengan Yayasan Cipta Cara Padu sebagau pihak mitra pelaksana akan memberikan pendampingan pada pemerintah daerah tujuh kabupaten terdiri dari Kabupaten Pasaman Barat, Rokan Hulu, Pandeglang, Garut, Kutai Kartanegara, Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Barat.

Pemilihan tujuh daerah ini sebelumnya telah dikoordinasikan dengan TP2AK dan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan. Berdasarkan tingkat prevalensi stunting, dibutuhkan komitmen pemerintah kabupaten, tingkat penyusunan serta implementasi strategi komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting.

“Kemitraan adalah salah satu prinsip kerja Tanoto Foundation. Untuk mendukung pemerintah dalam percepatan pencegahan stunting, kami bermitra dengan pemerintah pusat, The World Bank, UNICEF, dan sejumlah komunitas masyarakat. Secara khusus program pendampingan pada tujuh pemerintah kabupaten ini, kami juga menggandeng beberapa organisasi yang memiliki keahlian yang dibutuhkan,” kata CEO Global Tanoto Foundation, J. Satrijo Tanudjojo, pada acara kick-off program pendampingan, pengembangan, pendalaman, dan penguatan implementasi strategi komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting, Kamis (25/2/2021).

Acara yang dikemas virtual itu dihadiri pula oleh Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Sekretariat Wakil Presiden, Direktur Bina Keluarga Balita & Anak BKKBN, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Lead Program Manager TP2AK, Head of Tanoto Foundation Early Childhood Education and Development (ECED), Executive Director Yayasan Cipta dan perwakilan tujuh daerah.

Secara umum, kata Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Sekretariat Wakil Presiden Dr. Ir. Suprayoga Hadi, MSP, pelaksanaan program berisi pendampingan kepada pemerintah daerah dalam pengembangan, pendalaman dan penguatan implementasi strategi komunikasi perubahan perilaku guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap stunting, mengubah perilaku sampai tingkat keluarga dengan menggunakan strategi komunikasi yang tepat di samping memanfaatkan modalitas komunikasi yang sudah ada di masing-masing daerah.

“Perubahan perilaku merupakan salah satu intervensi kunci mencegah terjadinya stunting. Pelayanan kesehatan dan gizi yang baik disertai penyampaian pesan penting memperhatikan kualitas gizi ibu hamil dan anak. Sangat efektif mendukung pencegahan stunting. Saya juga meminta agar para pihak yang terlibat dalam program kemitraan ini dapat berkoordinasi dengan baik sehingga konvergensi antar program yang diinisiasi oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan swasta benar-benar dapat diwujudkan serta menghasilkan dampak positif bagi percepatan pencegahan stunting,” ungkap Suprayoga.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi hal yang penting karena stunting bukanlah masalah gizi buruk semata. Penyebab stunting bahkan lebih sering merupakan hal-hal di luar kesehatan ataupun gizi tapi lebih terkait pola asuh dan kebiasaan hidup bersih masyarakat.

Dalam pada itu, apresiasi dan harapan juga disampaikan Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan dr. Imran Agus Nurali, SpKO saat menutup sambutan.

“Terima kasih atas inisiatif dan peran serta berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan pendampingan, pengembangan, pendalaman, dan penguatan implementasi strategi komunikasi perubahan perilaku untuk pencegahan stunting. Semoga jadi model untuk dijalankan oleh banyak daerah atau pihak lainnya, hingga mencapai 100 kab/kota tahun 2021 ini,” katanya. (sas)

Pos terkait