Imunisasi Efektif Cegah Bayi dan Anak dari Pneumonia

  • Whatsapp

Oleh: dr. Eriska Ayu Wirindri (Dokter RSUD Lombok Utara)

Tanjung, Utarapost.net – PNEUMONIA atau lebih kita kenal dengan radang paru adalah suatu kondisi di mana infeksi menimbulkan peradangan pada kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru. Seseorang dapat mengalami pneumonia di mana saja, karena penyakit ini dapat ditularkan melalui udara, bahkan hanya melalui bersin atau bahkan batuk sekalipun. 

Bacaan Lainnya

Pada pengidap pneumonia, kantung udara dapat terisi cairan atau nanah, menyebabkan batuk berdahak atau nanah, demam, kedinginan, dan sulit bernapas, sehingga tidak ayal gangguan infeksi radang paru-paru menyebabkan pengidapnya merasa sakit dada.

Keseriusan pneumonia ini mulai dari yang ringan hingga mengancam jiwa. Gangguan ini nampak serius terutama pada bayi, anak-anak, orang yang berusia di atas 65 tahun, serta orang dengan masalah kesehatan atau sistem kekebalan yang lemah. 

Di Indonesia pneumonia masih masuk kategori masalah besar. Sejak tahun 2015 Kementerian Kesehatan menyebutkan, kasus pneumonia sebesar 816.500 balita per tahun. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis sebanyak 150 juta kasus pneumonia di dunia terjadi pada anak dibawah usia 5 tahun, sedangkan sejumlah 20 juta di antaranya termasuk dalam kasus kegawatan anak memerlukan penanganan serius di Rumah Sakit.

Dalam skala lokal Provinsi NTB, hingga kini radang paru ternyata masih menjadi masalah kesehatan yang utama. Pada tahun 2015, kasus pneumonia di NTB mencapai 6,38 persen. Angka tersebut juga masuk klaster tertinggi di Indonesia. Sementara data rilisan 2018, data penderita pneumonia di NTB kembali naik sebanyak 18.000 orang anak.

Berbagai organisme, termasuk pula bakteri, virus, dan jamur dapat menyebabkan pneumonia. Bakteri penyebab pneumonia yang paling sering ditemukan adalah pneumokokus (Streptococcus pneumonia), Hib (Haemophilus Influenza type b), dan stafilokokus (Staphylococcus aureus). Sedangkan virus penyebab pneumonia adalah respiratory syncytial virus (RSV) atau virus influenza, rhinovirus dan virus campak (morbili).

Gejala klinis pneumonia tergantung pada berat-ringannya infeksi di antaranya adalah demam, batuk, sakit kepala, gelisah, nafsu makan menurun, di samping gangguan pencernaan seperti mual, muntah dan diare. Pada infeksi yang lebih berat, dapat ditemukan gejala seperti sesak nafas, retraksi, takipnea (nafas cepat), nafas cuping hidung, merintih dan sianosis (kebiruan pada bibir).

Untuk pencegahan radang paru-paru, imunisasi adalah cara pencegahan yang efektif untuk mengurangi jumlah terjadinya kasus pneumonia pada bayi dan anak. Imunisasi ini bertujuan memberikan kekebalan kepada bayi dan anak terhadap suatu penyakit. Upaya prevensi penyakit pneumonia pada bayi dan anak dapat dicegah dengan memberikan imunisasi lengkap, terutama DPT (difteri, pertusis, tetanus), Hib, dan Campak. Imunisasi DPT dan Hib diberikan saat bayi berusia 2,3,4 bulan dan imunisasi lanjutan pada usia 18 bulan. Sementara imunisasi campak pada usia 9 bulan.

Berdasarkan fakta empiris, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan pemberian imunisasi pneumokokus (PCV) yang berisi protein konjugasi guna mencegah bayi dan anak terkena penyakit pneumokokus, seperti radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis) dan infeksi darah. Imunisasi pneumokokus (PCV) memiliki efek samping lebih rendah jika dibandingkan dengan imunisasi jenis lain seperti DPT. Imunisasi ini dapat diberikan pada anak usia dibawah 1 tahun dengan dosis 3 kali, diberikan pada usia 2,4, dan 6 bulan.

Dalam konteks pencegahan sejak dini, setiap orang tua atau masyarakat secara umum, disarankan untuk memerhatikan jadwal dan tidak menunda pemberian imunisasi. Pencegahan terhadap faktor resiko lain seperti memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, memberikan makanan yang bergizi, menjaga lingkungan yang sehat agar terhindar dari polusi udara dan asap rokok, serta mengajarkan personal hygiene pada anak, juga tidak kalah pentingnya dalam upaya bersama memerangi penyakit infeksi (pneumonia) pada bayi dan anak.

Demikian pula kontekstualisasinya pada masa pandemi Covid-19 saat ini, pelayanan imunisasi sebagai salah satu jenis pelayanan kesehatan esensial tetap menjadi prioritas untuk dilaksanakan. Kegiatan imunisasi yang kerapkali dilaksanakan di Posyandu, Puskesmas maupun Puskesmas Keliling diharapkan betul-betul menerapkan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi sesuai standar WHO dengan memerhatikan protokol kesehatan seperti social distancing atau jaga jarak 1-2 meter, menggunakan ruangan yang cukup besar agar sirkulasi udara baik, memberikan fasilitas cuci tangan dengan sabun serta pemakaian masker pada anak. Termasuk kepada orangtua dan petugas kesehatan sebagai pihak pemberi imunisasi. Mari bersama wujudkan generasi sehat dengan imunisasi. Semoga (*)

Pos terkait