Melawat Ritual Memarek Masyarakat Adat Bebekeq

  • Whatsapp
Mangku Raden Nyakratati tengah menyembeq salah seorang peserta Ritual Memarek di Makam Berangkaq (. Dok. Foto: Dory

LOMBOK UTARA (NTB), Utarapost.net — SETIAP TAHUN masyarakat adat leluhur Bebekeq memiliki waktu khusus mengunjungi petilasan (maqom) Bebekeq Dendaun, salah satu diantara kedatuan di Lombok pada masa lampau yang melenyapkan diri (merat-term. Sasak) beserta seluruh kawula balanya karena tidak sudi dijajah oleh Kerajaan Karangasem Bali akhir abad 17. Maqom kedatuan Bebekeq Dendaun terletak di Desa Selelos, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Bagi masyarakat adat setempat, tradisi mengunjungi maqom Bebekeq Dendaun dinamakan Ritual Memarek. Ritual ini sebagai tradisi adat warisan nenek moyang keturunan leluhur Bebekeq yang berlangsung sejak ratusan tahun silam. Tradisi yang semakin memperkaya khasanah budaya bangsa terdiri atas bermacam suku yang hidup berdampingan dengan damai satu dengan lainnya. Selain itu, mereka tetap mempertahankan budaya dan tradisi yang telah mereka percayai sejak beratus tahun silam.

Bacaan Lainnya

Dalam komuni ritual Memarek 2023, ratusan orang memadati maqon Bebekeq Dendaun kala puncak prosesi ritual dihelat. Salah satu prosesi ritual adat di gumi bersesanti Tioq Tata Tunaq tersebut dilokuskan di Bebekeq Dendaun.

Masyarakat keturunan leluhur Bebekeq rutin tiap tahun menggelar ritual Memarek sebagai bentuk penghormatan dan rasa cinta mereka kepada leluhurnya. Ritual ini bahkan konsisten mereka dirayakan pada hari Rabu dan Kamis dibulan Muharram dalam waktu dua hari. Dalam kehidupan masyarakat keturunan Bebekeq Lombok Utara dan wilayah lainnya, Memarek sebagai salah satu ritual adat yang masih eksis hingga saat ini.

Memarek sendiri berasal dari kata “Parek” artinya kunjungi/datangi. Sebuah tradisi adat masyarakat keturunan leluhur Bebekeq dengan memunajatkan do’a kepada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Tunggal untuk leluhur. Menapaktilasi sejarahnya, ritual Memarek merupakan bentuk akulturasi budaya Sasak dan ajaran Islam.

Menurut Ketua Paguyuban Adat Leluhur Bebekeq (Baleq), Raden Agus Bakri, Memarek adalah tradisi adat yang dilakukan masyarakat keturunan leluhur Bebekeq yang dikomunikan secara kolektif pada bulan Muharram. Tujuan ritus adat ini untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara mengunjungi maqom Bebekeq Dendaun yang terletak di hutan (gawah-term. Sasak) Bebekeq.

“Memarek ini sarana kita memanjatkan doa untuk leluhur kita, mengingatkan diri kita atas kematian, karena semua manusia pada akhirnya akan meninggal dunia. Sarana kita melestarikan budaya gotong royong ditengah masyarakat sekaligus upaya kolektif menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup bermasyarakat melalui kegiatan makan bersama (menggibung),” beber Miq Galih, sapaan akrab Raden Agus Bakri kepada awak media ini di Kampu Adat Selelos, Rabu (9/8/2023).

Dikatakan Miq Galih, perayaan ritual Memarek diwarnai dengan sejumlah kegiatan baik pra maupun pasca ritual, antara lain, Neratas yaitu masyarakat bergotong-royong membersihkan jalan menuju maqom dan tempat komuni puncak ritus dari rerumputan dan dedaunan beberapa hari sebelumnya. Hari pertama diisi merowah memule, yaitu pemanjatan doa di Bale Suci dipimpin mangku bersama kiai/penghulu untuk mengawali Memarek sebelum warga ke maqom Bebekeq.

Berikutnya, Kirab yaitu masyarakat adat bersama-sama menuju Maqom Bebekeq (tempat puncak ritual) akan dilangsungkan. Selanjutnya, Ujub, menyampaikan maksud ritual Memarek oleh Mangku. Disusul pemanjatan doa kepada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam kegiatan ini Mangku memimpin doa bersama ditujukan kepada roh leluhur.

Hari kedua, masih kata Miq Galih, Mangku menutup puncak ritual sebelum warga adat kembali ke Kampu Adat Selelos. Setelah sampai di Kampu, warga berziarah ke kompleks makam Berangkaq dipimpin mangku memunajatkan doa bersama yang dipimpin kiai. Terus dilanjutkan acara menggibung atau makan bersama setelah balik dari kompleks makam Berangkaq.

Usai warga kumpul, makanan diletakkan di atas berugak (gazebo) Mangku Bebekeq guna didoakan oleh kiai untuk mendapatkan berkah. Usai kiai memimpin doa, masyarakat adat menggibung bersama keluarga, kerabat dan sanak saudara dan warga lainnya menyantap makanan tradisional yang telah dihidangkan. Mereka makan bersama sambil bersendau gurau untuk saling meramahkan diri.

Acara paling akhir, tutur Miq Galih, menutup ritual Memarek di Bale Suci. Mangku bersama kiai dan sejumlah tokoh lainnya berdoa bersama dipimpin kiai untuk menutup seluruh rangkaian ritual Memarek. Berikutnya, Mangku akan menyembeq peserta ritual (menorehkan mamak di kening orang dengan sembeq atau campuran tujuh butir kelapa yang diparut dengan cara duduk di atas kayu kaki tiga menjadi Lelangeh). Kelapa diparut pada hari Rabu atau sehari pra puncak ritual di Bebekeq. Lelangeh tersebut dicampur dengan bedak berwarna kuning. Tak hanya itu, ada pula peserta ritual yang meminta sembeq kepada mangku untuk dibawa pulang.

Dalam pada itu, ditambahkan Sekretaris Baleq, Sarjono, bahwa tata cara penyelenggaraan ritual Memarek bukan sekadar mengunjungi maqom Bebekeq maupun berziarah ke makam leluhur di kompleks makam Berangkaq. Namun dalam ritual Memarek, terdapat nilai-nilai sosial budaya terkandung di dalamnya, seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, silaturahmi, dan berbagi antar sesama.

Pembukaan ritual Memarek 2023 dihadiri oleh sejumlah kalangan, di antaranya Ketua Majelis Adat Sasak (MAS) NTB, H. Lalu Sajim Sastrawan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, H. Abdurrahim, unsur Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga KLU, para budayawan, peserta ritual dan tamu undangan lainnya.

“Estimasi jumlah peserta ritual Memarek di Maqom Bebekeq 2023 ini kurang lebih ada 250 orang,” pungkas Sarjono. (dsr)

Pos terkait