Mengintip Tenunan Sakral “Jong” Bayan

  • Whatsapp

Bayan, Utarapost.net – *MASYARAKAT* Adat Bayan Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat diwarisi khazanah kekayaan kultural turun temurun dalam bentuk perkakas budaya yaitu pakaian adat. Pakaian adat yang populer dalam tradisi masyarakat adat Bayan adalah Jong Bayan. Sejatinya, jong mengacu pada pakaian penutup kepala biasa dikenakan kaum perempuan dalam acara-acara sakral dan bertuah.

Warisan lain terkait dengan teknik penggunaan pakaian adat yang dikenal dengan istilah “memenjong”, yaitu cara menggunakan kain Bayan khusus bagi laki-laki. Caranya membuat ujung kain berarah meruncing ke bawah.

Bacaan Lainnya

Sejak dahulu kala masyarakat adat Bayan dikenal sebagai penganut agama sinkretis “Wetu Telu”, menganggap sakral proses menenun aneka pakaian adat. Misalnya proses pembuatan kain Umbaq Kombong, kain Kagungan, dan kain Bebo.

Tokoh adat Bayan Raden Asianom, menceritakan seluruh proses penenunan kain-kain pakaian adat diawali dengan ritual tertentu oleh penenun terbaik di Bayan. Dalam proses pengerjaan, kain-kain ini tidak boleh ditenun sembarangan.

Tak hanya proses penenunannya, sakralisasi kain Bayan terefleksi dari makna kombinasi warna kain tenun. Warna Hitam bermakna kekuatan, melambangkan warna bumi dan tanah. Warna Merah melambangkan darah diartikan berani. Warna Putih berarti suci, melambangkan hubungan keagamaan dan ke-Tuhan-an.

Warna Kuning identik dengan padi tua, lambang kemakmuran. Warna Hijau melambangkan daun berarti kelestarian. Warna Biru lambang laut dan langit refleksi makna ketenangan dan ketentraman.

Cara khas mengenakan pakaian adat Bayan dengan cara disembunyikannya tangan sebelah kiri, laki-laki dan perempuan. Cara yang punya nilai kearifan yang luhur. Makna filosofisnya ketika seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kanan, dilarang keras mengharapkan balasan setimpal atau bahkan lebih baik dari sesuatu yang telah dikeluarkan.

Kearifan lokal ini disimbolkan dengan menyembunyikan tangan kiri di balik “Sampur atau Dodot Rejasa” saat kita mengenakan pakaian adat Bayan. Tangan kiri juga identik dengan memegang hal-hal yang bersifat kotor atau mengisyaratkan keburukan. Menyembunyikan tangan kiri bermakna tidak boleh mengumbar keburukan di depan orang banyak, baik keburukan diri sendiri, keluarga, maupun keburukan orang lain.

Nah, bagi traveler yang berkunjung ke Lombok sembari menikmati desa wisata di Bayan, ayo luangkan waktu anda untuk mampir ke Dusun Bayan Timur Desa Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Tepatnya di UD Jajak Nganter Bayan, pelestari budaya adat Bayan melalui proses pembuatan kain tenun. (*)

Pos terkait